Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Friday, October 4, 2019

Bagaimana Cara Kita Menghargai Orang lain?


Siapa pun di dunia ini ingin dihargai sebagai pribadi. Karena saling menghargai satu sama lain adalah dasar dalam relasi atau hubungan antar manusia. Seberapa pun kaya pintar dan ahlinya seseorang, namun jika dia tidak bisa menghargai orang lain maka sia-sia belaka. Pepatah mengatakan “Memang kepintaran dan kekayaan punya kuasa, tetapi mampu menghargai orang lain menentukan seperti apa karakter seseorang.”

Tak jarang kita protes jika kita merasa dilecehkan secara pribadi atau tidak dihargai. Menghargai orang lain sudah menjadi norma dan tumbuh menjadi kebiasaan melalui pengasuhan orangtua. Intinya, menghargai orang lain tidak ada ilmunya tetapi perlu dilaksanakan sepanjang hayat, dimana pun kita berada.

Lalu apa yang menyebabkan saya menulis tentang ini? Suatu kali datang seorang teman dari yang bercerita pada saya. Dia merasa tidak dihargai di tempatnya bekerja. Mendengar ceritanya, saya bisa paham bagaimana situasi bekerja ditempatnya dimana satu sama lain berbeda kultur. Akhirnya, kami mendiskusikan ini di kafe agar bisa mengambil pelajaran berharga.

Dari diskusi tersebut, saya merangkum poin-poin sebagai berikut.

Pertama, hargai orang lain sebagaimana kita ingin dihargai.

Anda pasti tahu bahwa alam bekerja dengan caranya. Siapa yang menabur, maka dia yang akan menuai. Siapa pun mendapatkan perlakuan setimpal dengan perbuatannya. Jika kita ingin dihargai orang lain maka hargai orang lain sebagaimana mestinya. Bagaimana pun jika kita tidak dihargai orang lain, sakit hatinya minta ampun.

Kedua, menghargai bukan kepada siapa perlu dilakukan tetapi menghargai karena siapa kita sesungguhnya.

Hal yang lumrah kerap terjadi dalam perlakuan masyarakat, bahwa menghargai itu dilakukan kepada orang-orang tertentu. Ingatlah bahwa kita menghargai orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi siapa saya sesungguhnya. Seperti yang disampaikan di awal bahwa saling menghargai adalah kunci hubungan yang sehat antar sesama pribadi dan masyarakat. Jika kita ingin menunjukkan karakter pribadi yang baik, hargai mereka meski seberapa pun buruknya mereka tidak menghargai kita. Saya tahu ini tidak mudah, tetapi anda pasti mengenal sebagian orang yang berhasil melakukannya dengan tulus.

Ketiga, menghargai itu tulus.

Tunjukkan penghargaan kepada orang lain bukan mencari keuntungan. Kebanyakan kita tahu bahwa menghargai orang lain karena ingin mendapatkan keuntungan semu. Namun sesungguhnya kita bisa belajar mana yang benar-benar menghargai orang lain dan mana yang hanya berpura-pura saja. Ketulusan itu tidak ternilai harganya.

Keempat, sadari bahwa setiap orang itu unik maka menghargai orang lain itu tanpa pandang bulu.

Tak ada orang yang sama seratus persen secara pribadi. Tuhan sudah menciptakan kita dengan begitu uniknya, tidak hanya fisik saja tetapi juga segala tabiat dan kepribadian. Manusia yang unik ini artinya berbeda-beda satu sama lain. Namun satu hal yang sama, setiap orang ingin dihargai. Jadi jika kita bisa menghargai si A, sudah semestinya kita menghargai B, C, dan seterusnya tanpa memandang latar belakang status ekonomi sosial dan lain sebagainya. Siapapun mereka sekalipun orang yang berada dibawah kita pantas untuk dihargai keberadaanya.


Kesimpulan

Saya dan teman saya sepakat bahwa menghargai orang lain adalah cara kita membangun relasi dan komunikasi antar manusia. Terlepas apa pun latarbelakang dan budaya asal seseorang, sejatinya menghargai orang lain bukan hal yang mudah dan juga hal yang susah. Semua berpulang kembali siapa kita ingin dikenal orang lain, saat kita bisa menghargai orang lain.


Wednesday, July 17, 2019

Diam itu Emas atau Bodoh?


Tiada yang bisa menebak apa yang dipikirkan dan dirasakan tiap orang. Jika saya berpikir diam itu emas, justru orang lain memandang diam yang saya lakukan itu berarti bodoh. Alasan saya diam, berbicara pun tak akan mengubah kondisi. Sedangkan alasan orang lain memandang diam itu bodoh karena berbicara akan mengubah kondisi.

Ternyata ada dua pandangan berbeda dalam satu hal yang sama. Saya berpikir diam itu lebih bijak dan menunjukkan suatu tindakan, meski cuma sekedar diam dan membaca situasi. Lagipula menilai seseorang itu bodoh ‘kan tidak dilihat dari kecakapan berbicara, sedangkan saya saja kuliah sarjana. Ini hanya membuktikan bahwa sesungguhnya saya itu tidak benar-benar bodoh secara intelegensi.

Saya berpikir bahwa ada saatnya kita perlu diam untuk menunjukkan sikap. Diam itu menurut saya tetap emas.

Anda sendiri bagaimana?

Dari hasil penelusuran, diam itu emas berasal dari karya sastra. Ada yang mengatakan pepatah itu sudah ada sejak berabad-abad lalu di Mesir kuno. Hal itu untuk menunjukkan bahwa diam itu suatu sikap, bukan melulu ketidaktahuan. Mungkin suatu saat ada tindakan. Bisa jadi diam menjadi hal yang bijaksana agar suasananya tidak menjadi runyam. Semua mungkin.

Namun ada pula yang berpendapat bahwa bicara itu perak sedangkan diam itu emas. Hal ini dinyatakan seorang pujangga Inggris abad 19. Peribahasa ini hanya untuk mengingatkan betapa lebih berharganya seseorang ketika mengambil posisi diam.

Bukankah emas itu lebih bernilai daripada perak?

Diam yang bijak ketika seseorang lebih tahu apa yang seharusnya diperbuat ketimbang berbicara. Diam juga adalah seribu kata dan kalimat lebih banyak ketimbang berbicara, meski kita tidak berbicara menyampaikannya. Sekali lagi, diam itu tetap suatu tindakan.

Monday, May 13, 2019

Kematian





Pernahkah bertanya kepada seseorang tentang kesiapan mereka menghadapi kematian? Apa jawaban mereka? Hanya ada dua jawaban, siap atau tidak. Jika menjawab siap, kebanyakan dari mereka adalah orang yang optimis menghadapi ‘pencuri maut’ yang bisa kapan saja datang. Optimis berarti mereka menyadari bahwa hidup mereka yang tak sempurna harus segera dipertanggungjawabkan kepada yang Ilahi.

Saya pernah membaca suatu buku dinyatakan bahwa setiap orang yang memasuki fase terminal karena sakit, memiliki beberapa tahap hingga akhirnya mereka menyadari dan menerima kematian sebagai suatu proses yang harus mereka hadapi.

Suatu malam, saya berbincang dengan orang yang saya kasihi tentang konsep kematian mengingat hidupnya yang sudah divonis oleh penyakit, yang tiba-tiba bisa saja merenggutnya kapan saja. Jujur saya mengatakan kepadanya, bahwa saya tak siap menghadapi kematiannya. Yang terjadi pada dirinya, siap atau tidak, kematian akan segera dihadapinya. Hal yang menarik dari orang ini, saya memandang beliau menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi panggilan ilahi.

Pernah membayangkan, apa yang akan orang sampaikan tentang kita saat kita sudah meninggal? Dia orang yang baik. Dia orang yang bertanggungjawab. Dia adalah orang yang suka berkorban dan patut diteladani. Bla bla bla. Sejuta pujian ingin diucapkan untuk memberi kesan kepada kita yang telah tiada. Akankah hal itu terjadi jika kita sudah meninggal?

Saya pernah mengikuti Personal Training dari sebuah lembaga training. Dia memberikan setiap peserta, tape recorder, kaset kosong dan headset. Instruksi Trainer adalah setiap peserta diharapkan merekam kesan-kesan orang yang mengasihi kita tentang kita apabila kita sudah meninggal. 

Saat saya melakukan terapi itu, sungguh saya mengupamakan bahwa yang memberi kesan adalah anak saya atau suami saya kelak, atau ibu saya. Kesan yang saya rekam semuanya adalah positif yang diharapkan dalam diri saya. Tetapi apakah demikan yang terjadi dalam hidup saya saat ini sesuai dengan rekaman yang saya buat. Saya tidak tahu. Saya belum pernah meminta kesan dari orang yang saya kasihi apabila saya sudah meninggal. Pamali. Tak baik membicarakan saat kita masih hidup. Padahal disitulah saya ingin mengetahuinya sebagaimana Trainer dalam Training saya mengatakan, kita ingin mengubah diri kita sebagaimana orang memberi kesan positif terhadap kita.


Tak ada yang tahu kapan saat itu datang. Siap atau tidak, setiap manusia akan melewati proses akhir dalam hidupnya yang dinamakan kematian. Jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan amal dan bakti selama hidupnya.


Saya pernah menghadiri kematian dari ayah seorang teman saya. Saat pemakaman tiba, sang anak memberi kesan yang positif tentang ayahnya semasa hidupnya. Padahal, saya tahu betul teman saya selalu bercerita perilaku ayahnya yang suka memukul, marah-marah dan perilaku lainnya yang dibenci oleh si anak. Apa yang terjadi saat si ayah tiada, teman saya itu tetap mengatakan hal positif tentang hidup ayahnya. Hal positif yang diteladani oleh si anak.


Satu lagi, baru-baru ini saya bersedih karena kehilangan seorang sahabat terbaik semasa kerja. Dia adalah seorang ibu dari dua putri yang sedang bersekolah, orang yang bersemangat, ceria dan menyenangkan serta ramah pada siapapun. Sahabat saya ini adalah orang yang suka menolong, memiliki selera humor yang tinggi dan aktif. Siapa sangka bahwa beliau terkena leukimia, bahkan semasa saya mengenalnya dengan baik, beliau tidak pernah mengeluhkan rasa sakit. Gaji pertama saat kami bekerja, digunakan untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan anaknya. Hingga setahun tak berjumpa dengannya, saya pun masih belum bisa melunasi kebaikan hatinya dan membayar ‘janji’ bertemu dengannya.

Saat berita kematian saya terima, saya langsung membayangkan kebaikan yang pernah saya terima sebagai sahabat. Saya sedih dan berduka. Saya menulis di dinding Facebook-nya, saya menuliskan kesan saya terhadap pribadinya. Saya pun membaca kesan-kesan orang lain tentang pribadinya. Luar biasa, semua mengungkapkan kenangan yang baik dan pujian terhadap pribadinya.

Saya pun merefleksikan, apa yang diungkapkan orang lain terhadap saya jika saya tiada. Apakah berisi pujian atau cacian?

Kematian adalah sebuah proses yang pada akhirnya kita semua akan menuju kesana. Sejatinya, hidup yang diberikan adalah kenangan tentang kebaikan yang sudah kita lakukan selama hidup. Meski kita bukan pahlawan atau orang terkenal di dunia ini, tetapi menjadi pribadi yang dikenal mengesankan positif, tentu adalah harapan buat kita semua.

Sekecil apa pun peran kita di dunia ini, lakukan yang terbaik dengan sisa hidup yang diberikan Tuhan. Kebaikan yang kita berikan kapan pun, dimana pun dan buat siapa pun akan ditanam di hati, meski raga dikubur di tanah.

Terimakasih buat sharing malam :)

Wednesday, April 24, 2019

Ayo, mulai menulis

Sumber Foto : Google Image

Menulis adalah kemampuan dasar yang seyogyanya harus dimiliki seseorang agar cakap dan terampil dalam mengelola pengetahuan. Ada orang yang menulis sekedar hobi saja tetapi ada pula berkat menulis, ia mendapatkan uang. Menulis bisa jadi pekerjaan. Menulis bisa juga menjadi ladang rejeki jika ia tekun menghasilkan buah-buah pemikirannya.

Menulis juga kini dijadikan cara untuk menarik perhatian. Lihat bagaimana kecenderungan orang untuk menulis status di media sosial meski tentang hal sepele. Atau menulis di suatu platform semisal blog yang menarik pembaca untuk datang dan berkunjung. Bahkan ada orang yang terprovokasi hanya lewat tulisan. 

Masih banyak lagi hal-hal yang bisa dimanfaatkan dari menulis. Intinya, apakah anda rajin menulis? Saya sendiri menjawab, tidak. 

Di sela-sela aktivitas sehari-hari, saya menyusun tips menulis berikut ini agar bermanfaat buat kita semua:

1. Tulislah saat sesuatu terlintas dalam benak anda! 
Tidak perlu mengkhawatirkan tata bahasa tetapi ingatlah bahwa di akhir tulisan, beri waktu untuk baca ulang apa yang ditulis agar sempurna. Buatlah waktu menulis menjadi hal yang nyaman dan menyenangkan untuk anda meski hal yang terlintas dalam benak anda hanya sekitar beberapa kalimat. Jangan menulis dengan terpaksa! Menulis itu akan menjadi ekspresi pembiasaan jika kita sering mengerjakan tanpa paksaan.

2. Pilih hal yang menarik dan menyentuh untuk dijadikan topik menulis! 
Kebanyakan pembaca tersentuh dengan ‘compelling stories’, atau hal-hal yang menyangkut sisi humanitas. Jika anda bercerita kebiasaan berangkat ke kantor dengan kereta misalnya, anda bisa tuliskan hal yang menarik saat di kereta seperti bertemu dengan nenek tua dengan dagangannya atau siswa SD yang kehilangan kaki karena kecelakaan, dsb.

3. Pilih juga hal yang disukai anda!
Apa hobi anda? Apa minat dan kesukaan anda? Segala yang disukai itu akan lebih mudah untuk dinyatakan dalam tulisan karena itu merupakah hal yang dialami. Menulis berdasarkan pengalaman lebih mudah ketimbang sesuatu yang masih wacana atau teori. Bukankah banyak juga buku yang bercerita berdasarkan pengalaman? Minat travelling maka mereka menulis pengalaman perjalanan. Pernah berkunjung ke suatu tempat wisata, lalu anda bisa tuliskan pengalaman yang dialami sepanjang perjalanan dan berwisata.

4. Tulislah yang menarik pembaca sesuai opini anda dengan segala sesuatu yang sedang terjadi atau trend/kecenderungan yang melanda masyarakat!
Terkadang membaca tidak serta merta berkaitan dengan hal yang ilmiah dan objektif. Anda bisa tuliskan pendapat anda seputar pengalaman kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang umum dan sehari-hari juga bisa memperkaya wawasan pembaca. Bukankah sekarang terjadi prinsip, sharing to connecting?


Bagaimana? Tertarik untuk tekun menulis? Ayo kita coba bersama 😀





Sunday, April 21, 2019

Kartini masa kini

Menggunakan kebaya bersama teman teman kantor anabatician woman saat peringatan Hari Kartini.
Lokasi : Graha Anabatic. Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Di Indonesia setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Penetapan tanggal tersebut disesuaikan dengan tanggal lahir kartini yang lahir pada 21 April 1879.

Sosok Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh perempuan jawa dan pahlawan nasional yang sangat inspiratif. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi kebangkitan perempuan.

Orang tua saya memberikan saya nama ajeng. Jika bertemu atau berkenalan dengan orang pertama kali sering kali mereka akan mengatakan  "namanya jawa sekali". hehe

Saya pernah menanyakan kepada orang tua saya alasan mereka memberikan saya nama Ajeng. Orang tua saya mengatakan bahwa mereka menyukai sosok Raden Ajeng Kartini. yang merupakan wanita jawa cerdas dan inspiratif. Mereka berharap dengan memberikan saya nama tersebut bisa mengikuti  semangat RA Kartini. (amin)

Bicara tentang R.A. Kartini. jika membaca biografinya banyak hal yang sangat menginspirasi untuk kita sebagai kaum perempuan.

Apa saja?

Semangat Kartini yang bisa saya rangkum dalam beberapa point sebagai berikut :

1. Memiliki keinginan yang kuat untuk belajar
Pada jamanya saat itu sampai dengan umur 12 tahun kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disana kartini belajar juga bahasa Belanda. Namun setelah umur 12 tahun Kartini dipingit karena budaya jawa saat itu mengharuskan dia mengikuti tradisi untuk kaum perempuan jawa. Meski dipingit dirumah kartini yang sudah mahir bicara bahasa belanda, beliau belajar sendiri dirumah dan menulis surat kepada teman teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Beliau sangat tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan di Eropa. sejak saat itu timbulah keinginan Kartini untuk memajukan kaum perempuan pribumi. karena ia melihat banyak perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Begitu semangatnya keinginan RA Kartini untuk belajar, hingga meski saat itu beliau dipingit tidak boleh keluar rumah saja beliau masih ingin belajar dan menulis beberapa surat untuk surat kabar.

Di era milenial saat ini saya melihat banyak kaum perempuan yang meneruskan semangat juang RA Kartini untuk bersekolah atau belajar. Tidak jarang beberapa teman perempuan saya ada yang sampai mendapatkan program beasiswa untuk bersekolah di luar negri. Wah hebat ya. saya percaya mereka bisa mendapatkan hal tersebut tidak mudah, karena semangat dan keinginan yang kuat untuk belajar sehingga mereka bisa mendapatkan kesempatan yang baik tersebut.


2. Perduli 
Beberapa adat perempuan jawa pada jaman tersebut adalah mereka tidak bisa bebas duduk dibangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki laki yang tidak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

RA. Kartini sangat perduli pada nasib perempuan pribumi yang saat itu berada dalam status sosial rendah, terkekang dengan kukungan adat yang "kolot". 

Hingga atas dukungan suaminya ia akhirnya mendirikan sekolah perempuan di kompleks kantor kabupaten Rembang yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.  Dengan tujuan memajukan taraf pendidikan dan sosial kaum perempuan agar bisa mengangkat harga diri kaum perempuan.

Berkaca dengan hal tersebut, Sudah banyak kartini masa kini yang begitu perduli pada hal hal sosial, terbukti banyak tenaga pengajar seperti guru ataupun dosen wanita. Mereka perduli pada nasib pendidikan generasi muda.
Anabatician Woman. Sumber Foto : Dokumen Pribadi


3. Pintar dan Berprestasi
R.A Kartini memiliki kegemaran belajar dan keingintauan yang cukup tinggi akan sesuatu hal. Hal tersebut yang membuatnya memiliki "skill" . Beliau bisa berbahasa belanda dan terbukti memiliki pengetahuan luas tentang beberapa aspek. 

Point ini berhubungan sekali dengan point pertama, ada suatu pepatah mengatakan "Rajin pangkal pandai". ya saya melihat memang itu benar. Tidak mungkin kita bisa menguasai suatu hal jika kita tidak mau belajar hal tersebut untuk mengetahui lebih dalam.

Di era milenia saat ini banyak juga kaum pintar dari kalangan perempuan. Lihat saja dikabinet pemerintahan presiden Jokowi. Ada beberapa menteri yang dipimpin dipercayakan kepada kaum perempuan.

Mengapa pak Jokowi bisa percaya kepada kaum perempuan? saya rasa karena memang mereka memiliki kapabilitas  untuk memegang posisi tersebut dan berkompeten dibidangnya.

Salah satu public figure asal Indonesia yang saya kagumi adalah Dian Sastrowardoyo. Adalah salah satu statementnya seperti ini “Entah akan menjadi seorang wanita karir atau ibu rumah tangga, setiap wanita harus memperoleh pendidikan yang tinggi. Karena mereka akan menjadi seorang ibu, dan seorang ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas”.

Saya sangat setuju dengan statement tersebut, karena memang mendidik anak butuh juga wawasan yang cukup. Bagaimana bisa kita mengajarkan anak kita tentang sesuatu hal jika kita sendiri tidak paham hal tersebut.

Menurut saya, pendidikan bukan hanya dari jalur formal di meja kuliah saja, tapi bisa didapatkan juga dari pengalaman keseharian, pergaulan dengan teman teman lingkungan kita bekerja atau komunitas. Selama kita memiliki niat untuk berkembang, terus belajar dan mengupgrade kemampuan diri dengan terus menerima saran dan kritik yang membangun maka kita akan memiliki pola pikir "Open Minded". 
"Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht. Setelah Kartini wafat".
Saya rasa wanita masa kini sudah menerapkan beberapa semangat juang dari R.A Kartini.
Tak hanya R.A Kartini menurut saya semua perempuan yang menghargai dirinya, menghargai dan menginginkan kemajuan sesamanya "harum namanya".
Semoga kita kaum perempuan bisa terus menjadi lebih baik dengan tidak melupakan kodrat kita sebagai kaum perempuan yang akan menjadi ibu.
Anabatician Woman. Sumber Foto : Dokumen Pribadi
Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Selamat Hari Kartini teman teman wanita pembaca pena dhiajeng 😊
Semoga wanita wanita kartini masa kini semakin memberikan aura positif.




Tuesday, April 16, 2019

Pesona Jakarta


Sumber foto : Dokumen Pribadi

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, saya paham betul bagaimana kota ini telah mengalami perkembangan yang begitu pesat.  Apalagi suasananya yang hampir serupa dengan kota metropolis besar dunia, semua ada di Jakarta pikir saya. Jakarta seperti kota yang tak pernah mati.

Berbicara tentang kota-kota dunia, Trip Advisor secara rutin mengadakan survey tahunan dengan Jakarta disebutkan sebagai kota kedua termurah setelah Hanoi. Bila kita ke Hanoi dikatakan biaya total yang diperlukan hanya £ 92. Sedangkan Jakarta memerlukan £ 95, diikuti kemudian Sharm el Sheikh di Mesir (£ 96), Bangkok di Thailand (£ 97) dan Sofia di Bulgaria (£ 112).

Kemacetan setelah jam pulang kantor. Sumber foto : Dokumentasi Pribadi

Ada 48 kota-kota besar di dunia yang dibidik menurut biaya makan, minum anggur (wine) dan koktail untuk dua orang ditambah perjalanan taksi jarak pendek dua kali serta tinggal satu malam di sebuah hotel bintang empat. Hasilnya ditemukan bahwa London menempati urutan nomor pertama sebagai kota termahal di dunia. Diikuti selanjutnya Paris, New York, Stockholm dan Oslo sebagai lima kota besar termahal dalam soal biaya bagi pelancong.

Oh ya, perbandingan berikutnya mengapa biaya di Jakarta masih terjangkau bagi Pelancong asal luar negeri? Karena menggunakan taksi di Jakarta dalam dua mil masih paling terjangkau bila dibandingkan kota-kota lain. Taksi dianggap sebagai moda transportasi eksklusif bagi pelancong.

Saya jadi ingat kesan mereka yang baru pertama kali menginjak Jakarta. Mereka tidak saja kagum dengan gedung pencakar langit yang menghiasi Jakarta tapi juga surga belanja mulai dari yang paling murah hingga nilainya fantastis mahal semua ada.

Apa kesan anda tentang Jakarta? Jakarta adalah kota yang “keras” bagi mereka yang berusaha mencari hidup di sini. Itu sekelumit kesan dari rekan-rekan kerja saya di Jakarta. Namun yang jelas Jakarta masih menawarkan pesona bagi siapa pun baik dari dalam maupun luar negeri.

Thursday, April 11, 2019

Bully yang membahayakan

Sumber Foto : Google Image

Belum lama ini ada tersiar berita tentang siswi SMP yang di keroyok (read : bully) oleh siswi yang lebih senior SMA.

Begitu saya mengetahui berita ini, saya cukup kaget karena pelaku dan korban sama sama masih dibawah umur, mereka masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

Bagaimama hal ini bisa terjadi?

Dikantor saya memiliki partner kerja. Dan teman kerja saya itu sharing pengalaman dan pendapatnya tentang bully.

Memang kasus seperti ini agak sulit untuk dipantau pihak sekolah, karena kejadiana diluar lingkungan sekolah. Namun sebaiknya memang keluarga terdekat dalam hal ini orang tua punya peranan penting bagaimana membangun relasi kedekatan dengan anak, sehingga anak bisa menceritakan apapun yang dialami dan merasa nyaman untuk menceritakanya kepada orang tua.

Menurut pendapat teman saya yang kebetulan dahulunya pernah menjadi korban bully saat dibangku SMP. Kenapa hal ini bisa terjadi karena jika dilihat dari point of view korban bully. Biasanya yang sering menjadi korban adalah orang yang lemah. Lemah bagaimana ya jeng?

Begini, orang yang lemah tidak berani untuk melawan hal hal buruk yang diterimanya bahkan memendam apapun hal hal buruk yang diterima seorang diri tidak menceritakan kepada orang lain iu adalah sasaran empuk untuk menjadi korban.

Loh lantas gimana dong?

Ya seharusnya kita berani untuk speak up. Bertindak atau menceritakan apapun kepada pihak lain jika ada hal buruk yang memang mengganggu kita.

Btw bully itu bukan hanya soal fisik loh. Lewat non verban secara visual bully juga bisa terjadi. Efeknya buat psikologis anak atau korban bully sangat negatif dan membutuhkan pemulihan rehabilitasi yang tepat. Jika tidak? Anak akan tumbuh sebagai pribadi yang pemalu, tidak berani show up, tidak berani berinteraksi kepada orang lain.

Lantas gimana dari sisi pelaku bully.

Kalau saya memandangnya pelaku bukly bisa melakukan hal tersebut.katakanlan berbuat zalim kepada orang lain karena dari dalam diri dia sendiri saja sudag bermasalah.

Ya mungkin ada masalah yang membuat pelaku melampiaskan aksi bullynya kepada teman atau pihak lain yang tadi saya katakan menjadi sasaran empuk aksi bully.

Terlepas dari masalah bully ini sendiri. Seperti yang saya singgung ditulisan sebelumnya. Keluarga punya peranan sangat penting dalam membangun relasi yang baik dengan anak sehingga aksi bully seperti ini tidak terjadi. Dimulai dari hal sepele misalnya makan bareng, atau liburan bareng.saya rasa dari hal sederhana tersebut mampu membuat anak merasa dekat dan nyaman kepada orang tuanya. Sampai akhirnya ya nyaman dan percaya untuk bercerita apapun kepada orang tua. Karena jika anak sudah tidak nyaman dan tidak percaya pada keluarga terdekatnya sendiri. Mereka mau cerita kepada siapa? Orang lain? Belum tentu orang lain memiliki niat baik untuk membantu jika sebaliknya justru menjerumuskan.bagaimana?

Oleh karena itu, karena keprihatinan saya lantas saya menulis tulisan ini.

Meski saya belum berkeluarga, saya kadang mendapat banyak masukan dari teman atau sharing dari mereka yang sudah memiliki anak. Tentang bagaimana parenting dan menjaga anak agar bisa terhindar dari hal hal negatif salah satunya bully ini.

Semoga kedepan tidak ada lagi kasus kasus serupa, agar masa depan anak anak generasi penerus memiliki mental yang kuat dan percaya diri untuk menunjukan prestasinya.


Saturday, April 6, 2019

Siap Menang, Belum Tentu Siap Kalah?

Beberapa bulan belakangan berita di tanah air disibukkan dengan perhelatan politik tentang pemilihan umum (pemilu). Berita ini hampir mendominasi lini massa. Isu ini menjadi perbincangan keluarga sehingga menjadi topik hangat dibicarakan. Itu berarti isu pemilihan umum itu bukan lagi menyimak siapa yang terpilih, tetapi siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Ini mengingatkan saya tentang kalah dan menang dalam hidup. Buku-buku yang dijual di toko bukukebanyakan berisi tentang bagaimana meraih kemenangan, bukan tentang bagaimana menerima kekalahan. Seminar motivasi banyak bercerita bahwa kita harus jadi pemenang, tetapi tidak diajari menyiapkan mental bilamana kalah. Ketika kita kalah, orang-orang sekitar hanya berpesan bahwa kita perlu sabar. Kita tidak diajari bagaimana mengatasi kenyataan saat kalah.

Apa yang terjadi?

Karena sejak berada di sekolah, kita diajari untuk berkompetisi menjadi pemenang, bukan bagaimana pengalaman itu terjadi.

Padahal ada banyak nilai-nilai kehidupan yang dialami seorang anak saat bersekolah, bukan hanya satu nilai kemenangan saja. Itu berarti saat tahap perkembangan moral seorang anak, mereka bisa belajar bahwa kompetisi itu bukan tentang kalah atau menang.

Kompetisi itu bisa berarti hidup itu adil, tidak ada kecurangan. Kompetisi itu berarti menghormati perbedaan, menerima kekalahan atau menghargai proses. Ini mengarahkan seseorang untuk paham bahwa siap menang juga berarti siap kalah.

Ketika seseorang diajari siap mengalami kekalahan, dia akan paham bahwa ada kekecewaan, penyangkalan, frustrasi dan berbagai perasaan negatif lainnya. Lalu orang dewasa sebagai pembimbing seperti guru dan orangtua memberikan pendampingan agar anak bisa mengatasi kekalahan. Ini penting agar anak mengenal aturan yang menilai benar atau salah, bukan tentang kalah atau menang. Harapannya, anak paham siap menang berarti juga siap kalah.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!