Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, May 13, 2019

Kematian





Pernahkah bertanya kepada seseorang tentang kesiapan mereka menghadapi kematian? Apa jawaban mereka? Hanya ada dua jawaban, siap atau tidak. Jika menjawab siap, kebanyakan dari mereka adalah orang yang optimis menghadapi ‘pencuri maut’ yang bisa kapan saja datang. Optimis berarti mereka menyadari bahwa hidup mereka yang tak sempurna harus segera dipertanggungjawabkan kepada yang Ilahi.

Saya pernah membaca suatu buku dinyatakan bahwa setiap orang yang memasuki fase terminal karena sakit, memiliki beberapa tahap hingga akhirnya mereka menyadari dan menerima kematian sebagai suatu proses yang harus mereka hadapi.

Suatu malam, saya berbincang dengan orang yang saya kasihi tentang konsep kematian mengingat hidupnya yang sudah divonis oleh penyakit, yang tiba-tiba bisa saja merenggutnya kapan saja. Jujur saya mengatakan kepadanya, bahwa saya tak siap menghadapi kematiannya. Yang terjadi pada dirinya, siap atau tidak, kematian akan segera dihadapinya. Hal yang menarik dari orang ini, saya memandang beliau menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi panggilan ilahi.

Pernah membayangkan, apa yang akan orang sampaikan tentang kita saat kita sudah meninggal? Dia orang yang baik. Dia orang yang bertanggungjawab. Dia adalah orang yang suka berkorban dan patut diteladani. Bla bla bla. Sejuta pujian ingin diucapkan untuk memberi kesan kepada kita yang telah tiada. Akankah hal itu terjadi jika kita sudah meninggal?

Saya pernah mengikuti Personal Training dari sebuah lembaga training. Dia memberikan setiap peserta, tape recorder, kaset kosong dan headset. Instruksi Trainer adalah setiap peserta diharapkan merekam kesan-kesan orang yang mengasihi kita tentang kita apabila kita sudah meninggal. 

Saat saya melakukan terapi itu, sungguh saya mengupamakan bahwa yang memberi kesan adalah anak saya atau suami saya kelak, atau ibu saya. Kesan yang saya rekam semuanya adalah positif yang diharapkan dalam diri saya. Tetapi apakah demikan yang terjadi dalam hidup saya saat ini sesuai dengan rekaman yang saya buat. Saya tidak tahu. Saya belum pernah meminta kesan dari orang yang saya kasihi apabila saya sudah meninggal. Pamali. Tak baik membicarakan saat kita masih hidup. Padahal disitulah saya ingin mengetahuinya sebagaimana Trainer dalam Training saya mengatakan, kita ingin mengubah diri kita sebagaimana orang memberi kesan positif terhadap kita.


Tak ada yang tahu kapan saat itu datang. Siap atau tidak, setiap manusia akan melewati proses akhir dalam hidupnya yang dinamakan kematian. Jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan amal dan bakti selama hidupnya.


Saya pernah menghadiri kematian dari ayah seorang teman saya. Saat pemakaman tiba, sang anak memberi kesan yang positif tentang ayahnya semasa hidupnya. Padahal, saya tahu betul teman saya selalu bercerita perilaku ayahnya yang suka memukul, marah-marah dan perilaku lainnya yang dibenci oleh si anak. Apa yang terjadi saat si ayah tiada, teman saya itu tetap mengatakan hal positif tentang hidup ayahnya. Hal positif yang diteladani oleh si anak.


Satu lagi, baru-baru ini saya bersedih karena kehilangan seorang sahabat terbaik semasa kerja. Dia adalah seorang ibu dari dua putri yang sedang bersekolah, orang yang bersemangat, ceria dan menyenangkan serta ramah pada siapapun. Sahabat saya ini adalah orang yang suka menolong, memiliki selera humor yang tinggi dan aktif. Siapa sangka bahwa beliau terkena leukimia, bahkan semasa saya mengenalnya dengan baik, beliau tidak pernah mengeluhkan rasa sakit. Gaji pertama saat kami bekerja, digunakan untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan anaknya. Hingga setahun tak berjumpa dengannya, saya pun masih belum bisa melunasi kebaikan hatinya dan membayar ‘janji’ bertemu dengannya.

Saat berita kematian saya terima, saya langsung membayangkan kebaikan yang pernah saya terima sebagai sahabat. Saya sedih dan berduka. Saya menulis di dinding Facebook-nya, saya menuliskan kesan saya terhadap pribadinya. Saya pun membaca kesan-kesan orang lain tentang pribadinya. Luar biasa, semua mengungkapkan kenangan yang baik dan pujian terhadap pribadinya.

Saya pun merefleksikan, apa yang diungkapkan orang lain terhadap saya jika saya tiada. Apakah berisi pujian atau cacian?

Kematian adalah sebuah proses yang pada akhirnya kita semua akan menuju kesana. Sejatinya, hidup yang diberikan adalah kenangan tentang kebaikan yang sudah kita lakukan selama hidup. Meski kita bukan pahlawan atau orang terkenal di dunia ini, tetapi menjadi pribadi yang dikenal mengesankan positif, tentu adalah harapan buat kita semua.

Sekecil apa pun peran kita di dunia ini, lakukan yang terbaik dengan sisa hidup yang diberikan Tuhan. Kebaikan yang kita berikan kapan pun, dimana pun dan buat siapa pun akan ditanam di hati, meski raga dikubur di tanah.

Terimakasih buat sharing malam :)

Wednesday, April 24, 2019

Kekuatan Cinta Lebih daripada Uang. Percayakah Anda?


Mana yang anda pilih jadi orang paling kaya atau jadi orang yang paling dicintai?

Sebuah riset yang saya baca memunculkan fakta bahwa apa yang membuat orang begitu bahagia bukanlah banyaknya uang, tetapi sedikit atau tidak ada masalah percintaan. Loh?? Jangan meremehkan kekuatan cinta, karena itu kunci kebahagiaan! Ini adalah studi longitudinal yang mengkaji dimensi kehidupan manusia yakni kebahagiaan. Bahwa untuk menjadi bahagia adalah hidup penuh cinta.

Dr. George Vaillant dalam jurnal berpendapat bahwa bahwa ada dua pilar kebahagiaan, “Pertama adalah cinta. Yang kedua adalah kemampuan untuk mengatasi permasalahan kehidupan yang menjauhkan diri dari cinta.”

Jadi mereka yang bisa menghasilkan banyak uang dalam hidup tetapi mereka bisa begitu tidak bahagia hanya karena masalah percintaan atau ketidakhadiran cinta dalam hidup mereka. Jadi uang bukanlah sumber kebahagiaan.

Coba anda alami sendiri, jika anda punya masalah percintaan atau problem dengan orang yang dicintai, apakah anda bisa berkonsentrasi baik dalam bekerja menghasilkan uang? Bisa saja kinerja seseorang menurun karena putus cinta atau orang yang dikasihi sakit/menderita.

Begitu berharganya cinta ketimbang pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Itu sebab banyak perusahaan melibatkan dukungan pasangan hidup dalam bekerja. Hal ini dimaksudkan agar si pekerja tetap produktif berkat dukungan orang yang dicintai.

Banyak juga kisah bagaimana putus cinta bisa begitu menyakitkan bahkan hingga menderita. Kehilangan cinta bahkan lebih menyakitkan ketimbang kehilangan uang. Orang menjadi frustrasi dan depresi hanya karena ketidakhadiran cinta dalam hidup mereka. Apa artinya punya banyak uang jika tak ada yang mencintai? Begitu ibaratnya.

Itulah cinta, meski sudah melewati bulan februari hari kasih sayang. Sekedar mengingatkan bahwa mencintai itu jauh lebih berharga ketimbang memiliki harta benda seorang diri tanpa cinta.

Ada proses kimia yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar bahwa cinta itu memiliki kekuatan ketimbang seberapa pun banyaknya uang yang dimiliki.

So, di sini kita bisa menyimak bahwa kekuatan cinta lebih tinggi ketimbang banyaknya uang. Sudah ada cerita seorang anak dari keluarga kaya raya berani meninggalkan segalanya hanya karena cinta.

Anda percaya? Selamat menjadi orang yang penuh cinta! ❤

Saturday, April 20, 2019

Minggu Paskah : Cinta, Pengorbanan, Kehidupan kekal


Paduan Suara Legio Maria saat tugas koor misa malam paskah.saya dibaris kedua sebelah kanan.Lokasi : Gereja Trinitas Cengkareng. Sumber foto : Dokumen pribadi

Melanjutkan masih dalam tema tri hari suci. Saya senang sekali pasalnya kerinduan saya untuk menyanyi lagi di gereja sudah terobati.

Seperti yang pernah saya tulis di instagram saya bahwa buat saya pribadi saat menyanyi di gereja feelnya berbeda. Feel seperti apa? Perasaan seperti keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Keinginan untuk mempersembahkan pujian lewat nyanyian.
Melalui tulisan ini saya mengucapkan terimakasih kepada paduan suara legio maria paroki trinitas cengkareng. Karena saya masih diberikan kesempatan untuk ambil bagian tugas koor pada misa malam paskah. Saya masih bisa belum bisa move on dengan lagu haleluya yang dibawakan teman teman legio mariae choir saat misa malam paskah.(rekamannya saya posting di instagram saya) Jadi top playlist saya hari ini.hehe

Meskipun saya tidak bisa mengikuti latihan rutinya karena beberapa hal terkadang ada beberapa task yang harus saya kerjakan. Namun demikian sebagai ganti jika ada waktu luang saya belajar sendiri not alto dirumah. Saya tidak pernah melupakan legio mariae choir.
Latihan not alto. Sumber Foto : Dokumen Pribadi


Latihan lagu Haleluya.Sumber Foto : Dokumen Pribadi
Meski terkadang sebagai viewer setiap tugas teman teman kerapkali ada rasa kerinduan untuk bergabung kembali dalam pelayanan.

Terlepas dari rasa senang saya karena bisa kembali menyanyi lagi. Sehubungan dengan perayaan tri hari suci sampai dengan paskah.

Banyaklah makna yang saya bisa dapatkan. Saya rangkum dalam beberapa point berikut

1. Cinta
Tidak akan ada habisnya jika kita membahas cinta. Setiap manusia memiliki perasaan cinta. Itu adalah anugrah yang diberikan Tuhan untuk kita. Supaya kita bisa mencintai dengan ketulusan hati. Cinta itu universal.

Tuhan Yesus sudah lebih dulu mencintai kita, lalu kita diminta untuk mencintai sesama juga, saling membasuh, saling melayani dan berbagi.

Saya pernah menonton suatu acara reaility show di televisi disana diceritakan bagaimana seorang ibu mencintai anaknya walaupun anak tersebut terlahir dalam kondisi tubuh yang tidak normal.

Cinta yang tulus tidak pernah melihat kondisi, bisa saja ibu itu kecewa karena memiliki anak yang kondisinya tidak normal. Lalu menelantarkan anak tersebut. Tapi hal itu tidak dilakukan justru cinta dan kasih sayang sang ibu begitu besar pada anaknya. Dia merawat anak itu dengan cinta.

2. Pengorbanan
Ini terkait sekali dengan point pertama yaitu cinta. Bagaimana bisa mustahil seseorang berkorban jika tidak mencintai terlebih dahulu?

Ketika mencintai selalu ada pengorbanan / effort / perjuangan.

Tuhan Yesus berkorban memberikan diriNYA untuk wafat di kayu salib.
Tuhan ingin juga kita berkorban. Berkorban dalam artian berbagi untuk sesama.

Ibu yang memiliki anak yang cacat tadi begitu mencintai anaknya. Tidak terlintas untuk mengabaikan anak tersebut. Dengan cekatan beliau merawat anak tersebut membesarkanya. Berjuang mengorbankan waktu dan tenaganya yang sudah tidak lagi muda. Cinta ya seperti itu, berkorban dan berjuang. Tidak ada cinta tanpa memberi dan tanpa berkorban.

3. Kehidupan kekal
Yesus wafat dan kemudian bangkit pada hari ke tiga. Moment ini dirayakan sebagai hari paskah bagi umat nasrani.

Mencintai sudah, berkorban sudah, melakukan yang terbaik lalu bicara tentang kehidupan kekal.

Dalam ajaran katholik yang saya imani. Ada kehidupan kekal setelah kematian. Kematian bukanlah akhir dari keberadaan kita didunia ini.

Dalam ayat filipi 1 : 21 disebutkan "karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".

Jadi jika kita sudah melakukan semua yang terbaik semasa hidup didunia. Kematian adalah suatu keuntungan. Mengapa? Karena dengan kematian yang akan mengantarkan kita pada hidup yang kekal seperti yang dijanjikan Tuhan.

Akhirnya semoga dengan merefleksikan semangat cinta, pengorbanan yang sudah diteladakan Tuhan Yesus. kita mampu menjadi terang dunia bagi siapapun. Sehingga kita akan bisa merasakan kehidupan kekal dikemudian hari. Amin

Selamat paskah teman teman pembaca penadhiajeng.
Tuhan memberkati😇


Friday, April 19, 2019

Jumat Agung : Sengsara membawa berkat


Penciuman kayu salib dalam misa Jumat Agung. Sumber Foto : Antara news

Melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang Kamis putih. Masih dalam perayaan tri hari suci, hari ini umat nasrani merayakan hari raya Jumat Agung.

Jumat agung adalah peringatan akan hari dimana Tuhan Yesus wafat dikayu salib. CintaNYA yang begitu besar sampai wafat demi menebus dosa kami semua.

Dalam ibadah jumat agung diawali dengan doa koronka. Lalu ada sesi yang selalu saya tunggu saat ibadah jumat agung yaito pasio.

Pasio adalah dialog yang dibacakan oleh pembaca / lektor dan romo / pastur diiringi dengan paduan suara yang mengisahkan kisah sengsara Yesus. Diceritakan dalam pasio bagaimana perjalanan kisah sengsara Tuhan sampai meregang nyawa dikayu salib.

Ada hal yang membuat hati saya terenyuh seketika hanyut dalam perasaan sedih saat mendengar sak lektor membacakan setiap dialognya yang dikemas dalam bacaan alunan not.

Lalu ada sesi penciuman salib yang merupakan simbolis penghormatan akan Tuhan Yesus yang telah wafat dikayu salib.
Romo lulus yang merupakan romo tamu dari pedalaman kalimantan. Beliau membawakan homili secara apik dibalut dengan humor yang membuat saya fokus dan tertawa.hehe

Ada beberapa hal yang saya rangkum dari kotbah homili beliau hari ini di gereja santa maria imaculata seperti berikut  :

1. Sengsara membawa berkat
Filipi 1 : 29 dipanggil menderita untuk Tuhan. Sesuai juga dengan judul yang saya angkat untuk tulisan ini. Sengsara membawa berkat. Siapa sih yang mau hidup dalam kesengsaraan? atau meminta dengan sengaja untuk ingin hidup sengsara.

Saya rasa tidak ada, pasti semua dari kita saat berdoa ingin mengalami kebahagiaan dalam hidup.

Tidak ada yang mau sengsara. Namun apa yang terjadi saat kesengsaraan atau penderitaan datang dalam hidup kita. Mungkin kita bisa saja marah dengan Tuhan? Karena merasa tidak adil diberikan pederitaan.

Sahabat, ingatlah selalu bahwa Tuhan tidak akan memberikan kita kesulitan diluar batas yang kita mampu pikul. Jadi artinya memang masalah hidup itu datang dengan porsi yang kita mampu angkat.

Menjadikanya sebagai berkat atau rahmat adalah tantangan kita sebagai murid Tuhan didunia ini. 


2. Membutuhkan iman yang luar biasa
Keimanan menurut saya adalah relasi kita dengan sang pencipta. Jadi hanya Tuhan yang berhak menilai bagaimana iman kita secara pribadi kepadaNYA. Lalu romo bilang "iman yang luar biasa" yang bisa melewati hal hal yang tidak mengenakan tersebut menjadi berkat.semoga kita bisa memilikinya.

3. Membuka mindset dan kacamata
Maksudnya adalah bagaimana cara pandang kita yang selalu berlandaskan logika manusia dirubah menjadi sudut pandang ilahi.

Disini tantanganya juga buat kita. Kenapa? Karena sebagai manusia kadang kita digiring untuk berfikir secara logika. Begitu ada hal yang diluar logika, secara akal sehat kita akan menolaknya.

Membuka mindset adalah bagaimana kita bisa membedakan antara keinginan pribadi agar selaras dengan keinginan Tuhan.

4. Memberikan diri untuk mengasihi "sehabis habisnya"
Seperti DIA yang sudah wafat di kayu salib. Mengorbankan dirinya sampai wafat hanya untuk mengasihi kita. DIA ingin  dalam kehidupan sehari hari kitapun bisa mengikutiNYA. Bukan mengikutiNYA untuk kemudian wafat juga disalib, tapi mengikutinya untuk selalu mengasihi sesama terhadap siapapun. Misalnya mengasihi orang tua, pasangan hidup ataupun sesama. Memberikan diri untuk berani memikul salib / masalah di dunia.

5. Hidup adalah berjuang
Romo juga bilang tentang perjuangan. Sejatinya memang kita harus berjuang menjalani kehidupan ini. Ingin bisa diterima dikampus favorite kita harus berjuang belajar dengan sungguh, ingin memiliki karier yang baik kita harus berjuang memberikan kemampuan terbaik kita, ingin memiliki kesehatan kita harus olahraga. Ada effort yang kita harus keluarkan untuk mencapai keinginan tersebut disitulah esensi sebuah perjuangan.

6. Merasakan kesusahan orang lain
Pernah dengar SOS? Susah lihat Orang Senang dan Senang lihat Orang Susah.
Saya rasa ini virus penyakit hati yang sudah selayaknya dibuang jauh jauh. Karena kasih yang Tuhan inginkan adalah kita bisa turut berempati merasakan kesusahan dan penderitaan orang lain. Melepaskan keegoisan untuk tidak lagi menempatkan diri sendiri sebagai pusat tapi dengan kita memperdulikan sesama berarti kita sudah menempatkan orang lain sebagai pusat yang merupakan kasih sebagai keinginan Tuhan untuk kita lakukan.

7. Terimakasih
Pada akhir homilinya ditutup oleh romo dengan mengajak kita untuk terbiasa mengucapkan terimakasih. Terimakasih karena aku boleh memanggul salib dunia ini. Terimakasih karena sudah mengerti penderitaanku.

Memang banyak hal yang kita sebagai manusia mungkin kurang "aware". Tapi memang sebaiknya kasih perlu dibiasakan dan dipupuk setiap hari agar dari kesengsaraan hidup yang kita alami, akan menjadi berkat dan rahmat bagi sekitar kita. Amin.

Selamat hari Jumat Agung.
Tuhan memberkati😇

Thursday, April 18, 2019

Kamis Putih : Teladan Melayani

Saat tuguran setelah misa kamis putih. Lokasi : Gereja Santa Maria Imaculata.Paroki Kalideres. Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Setelah sebelumnya saya posting tulisan tentang Minggu Palma. Lalu masih berlanjut dalam tri hari suci sejak Minggu Palma adalah Kamis Putih.

Dalam kepercayaan yang saya imani yaitu Katholik. Kamis putih adalah sehari sebelum Tuhan Yesus disalib. Pada hari kamis putih diadakan perjamuan kudus dengan para murid. Ekaristi ditutup dengan tuguran dimana dalam tuguran setiap umat berdoa dalam hati berjaga jaga menemani Yesus yang tau bahwa diriNYA akan disalibkan keesokan harinya.

Pulang kerja hari ini saya berbenah diri dan langsung bersiap siap untuk berangkat mengikuti perayaan misa kamis putih di Gereja Santa Maria Imaculata Paroki Kalideres. Misa malam dimulai jam 9 dipimpin oleh Romo Bono.

Dalam homilinya yang saya rangkum dalam note saya. Kamis putih adalah inti untuk kita benar benar memahami perayaan tri hari suci pada keesokan harinya di jumat agung sampai dengan paskah.

Dalam perayaan misa ada pembasuhan kaki murid Yesus. Membasuh sama dengan memberikan diri untuk melayani sesama. Jika Tuhan sudah lebih dahulu merendahkan diriNYA untuk melayani kita. Mengapa kita tidak bisa seperti itu.
Tuhan ingin memberikan teladan agar kita mau benar benar melayani.

Panduan ibadah tuguran. Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Secara harafiah melayani disini bisa diartikan dalam konteks yang luas. Melayani di gereja dengan terlibat komunitas, atau sekup yang lebih kecil dilingkungan paroki.Atau jika memang tidak punya waktu khusus melayani di gereja bisa juga melayani lewat keluarga, lingkungan kerja, atau sekolah. 

Jika bicara melayani identik dengan memberi. Apa yang bisa diberikan untuk berbagi? Banyak hal. Tidak melulu soal materi, dengan waktu, tenaga, pikiran, bakat / talenta atau ilmu yang kita miliki.
Lantas apa yang bisa kita dapatkan? Jawabanya kepuasan atau bahagia. Setuju gak?

Tidak ada yang bisa membuat kita bahagia seperti contohnya melihat orang lain merasa terperhatikan atau tersenyum karena kita membantunya dengan ikhlas.

Hal hal yang mungkin buat kita "receh" atau kecil bisa jadi sangat berharga buat mereka.
Ini soal hati. Bagaimana hati kita dengan ikhlas mau memberikan bagian yang terbaik untuk melayani sesama. Tentunya melayani tanpa memandang SARA menghargai orang lain, Jika kita sudah mulai dengan bisa menghargai diri sendiri sudah selayaknya dan seharusnya kitapun bisa belajar untuk mulai menghargai perduli dengan orang lain.

Saya selalu ingat dengan pesan orang tua saya. Kebaikan tidak akan putus. Jika kamu menolong orang lain dengan tulus. Suatu hari kamu juga akan menerima demikan dari orang lain lagi. Atau anakmu kelak yang akan menerimanya. 

Semoga kita semua bisa benar benar memahami misi dan kehendak Tuhan dalam hidup sehari hari.

Selamat hari kamis putih.
Tuhan memberkati😇

Sunday, April 14, 2019

Minggu Palma : "Milikilah Kasih"

Daun Palma  didepan Goa Maria. Sumber foto : Dokumen Pribadi

Minggu ini bagi umat katholik di seluruh dunia dirayakan perayaan ekaristi minggu palma yang merupakan pembukaan memasuki rangkaian tri hari suci sebelum nanti kamis putih.

Dalam misa dibacakan oleh lektor dan juga romo, tentang bagaimana perjalanan kisah sengsara Yesus dalam sebuah dialog.

Di hari minggu palma orang mengelu elukan Tuhan lalu kemudian orang yang sama yang menginginkan Tuhanya dijatuhkan disalibkan.

Bagaimana orang mudah berubah mengikuti arus? 

Pilatus yang tau kebenaran bahwa sebenarnya Yesus tidak bersalah. Dalam hati kecilnya sebenarnya iapun tidak ingin menyalibkan Yesus.namun ia takut membela kebenaran karena ia tau jika ia menolak keinginan orang yang begitu banyak ingin menyalibkan Yesus mungkin jabatanya menjadi taruhan. pada akhirnya pilatuspun mengikuti arus keinginan orang orang yang menginginkan Yesus disalib. 

Related dengan kehidupan kita sehari hari, terkadang kita begitu mudah mengikuti arus, memiliki perasaan cemas jika tidak mengikuti teman ataupun trend misalkan. Sementara kita tau belum tentu yang kita ikuti adalah kebaikan.

Romo mengatakan untuk mengatasi hal tersebut kuncinya kita harus memiliki kasih.

Kasih yang akan membuat kita teguh dalam pendirian. Setia dalam iman, pelayanan, pasangan, keluarga, dan lain sebagainya.

Tentunya menurut saya pribadi mengasihi sesama bisa dijadikan suatu "kebiasaan".
Diawal mungkin sulit untuk memulai mengasihi. Namun jika kita terbiasa menurunkan ego dan mengasihi sesama tentunya akan menjadi lebih baik.

Selamat minggu palma.
Selamat berhari minggu.
Tuhan memberkati 😇

Saturday, April 13, 2019

Apa yang Buat Kopi itu Nikmat?

Kopi kenangan. Sumber foto : dokumen pribadi
Dahulu saat saya masih anak-anak, saya mengamati banyak bapak-bapak datang ke warung kopi yang letaknya tak jauh di depan rumah. Sambil menyeruput kopi, mereka biasa berbicara ngalur ngidul yang membuat mereka betah berlama-lama. Harga kopi murah, hanya sekitar dua ribu rupiah saat itu. Saya penasaran, apa yang membuat mereka menikmati kopi.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, nikmatnya kopi itu ditentukan dari lima hal di bawah ini
1. Biji Kopi
Biji kopi itu menentukan jenis kopi yang anda pesan. Ada dua jenis kopi yakni robusta dan arabica yang kemudian menghasilkan varian kopi yang kaya rasa. Salah satu negara penghasil kopi adalah Indonesia yang punya ragam kopi dari wilayah barat hingga timur. Bahkan biji kopi dari pulau Jawa termasuk yang dikenal dunia. Ini yang saya ingat saat masih belajar sejarah di sekolah bahwa bangsa asing datang melakukan perdagangan, dimana biji kopi menjadi barang dagang yang dicari saat itu. Konon aroma kopi dari pulau Jawa menghasilkan aroma yang khas dan berbeda.
Jika ditanya, apa yang membuat kopi begitu nikmat? Pasti diawali dengan aromanya yang khas hingga saya pun terbangun hanya karena mencium aromanya. Namun sebagian lagi bagi para pencinta kopi, mereka tak peduli dengan biji kopinya. Lalu apa? Cek alasan selanjutnya!
2. Air panas
Pepatah mengatakan kopi dan cinta itu rasa terbaiknya saat masih panas. Maksudnya, minumlah kopi selagi panas. Itu pula yang saya amati para penikmat kopi menuang air kopi dan meniup kepulan asap kopi di piring kecil sebagai alas cangkir kopi. Meski kopi masih panas, tetapi panasnya kopi yang demikian yang membuat penggila kopi menikmatinya.
Suatu kali, saya pernah ikut acara “Youth Camping” dan saat itu saya bertugas menyajikan kopi untuk panitia. Saya tidak memastikan air yang saya masak, apakah benar-benar mendidih untuk membuat kopi. Akhirnya saya meracik kopi untuk beberapa gelas. Hasilnya, sebagian orang yang meminum kopi buatan saya merasa rasa kopi aneh, tidak enak bahkan ada yang mengeluh sakit perut. Entahlah, mereka berasumsi air yang saya masak memang benar-benar tidak mendidih dan tak baik untuk kopi. Dari pengalaman itu, saya paham bahwa air panas juga menentukan nikmatnya minum kopi.
3. Cara meracik kopi
Rekan kerja saya mengajak saya datang ke kedai kopi ternama. Letaknya memang tak jauh dari area perkantoran. Rekan kerja saya ini adalah coffee addicted. Dia bisa minum kopi dua sampai lima cangkir tiap hari. Dia sering datang ke kafe yang sama karena dia menikmati cara barista kopi meracik kopi untuk para tamunya. Rekan kerja saya ini bisa duduk berjam-jam dan memesan kopi yang sama karena dia berpikir kopi yang diracik di kafe itu begitu istimewa.
Cara meracik kopi memang butuh keahlian tertentu, hingga kini bermunculan kursus atau kelas pelatihan untuk melatih para peracik kopi.
Apakah anda percaya bahwa cara meracik kopi itu menentukan kenikmatan kopi? Pertanyaan ini saya tanyakan kepada peracik kopi espresso yang membuatkannya untuk saya. Untuk pertama kalinya saya mencicipi espresso dan tidak mengalami gangguan perut. Kopinya pun sangat sangat lezat. Satu pesan si peracik kopi, buatlah kopi dengan cinta! Kopi pun akan terasa nikmat.
4. Mesin kopi
Dikantor tempat saya bekerja banyak sekali pecinta kopi, kadang saya bisa menemui kopi di pantry milik teman teman saya dari beberapa jenis kopi. Bahkan ada rekan kerja yang memang menyukai kopi sampai membeli mesin kopi untuk meracik kopi dari biji kopinya langsung.katanya sih lebih nikmat begitu.
Mesin kopi yang dijual di pasaran aneka rupa, model, merek dan harga. Itu semua tergantung selera, anggaran dan kebutuhan anda. Untuk kebutuhan personal dan rumah tangga misalnya anda bisa membeli mesin kopi yang sederhana dan sesuai dompet anda. Mesin kopi akan membuat para penggila kopi semakin jatuh cinta dengan kopi buatan mereka sendiri. Pasalnya mesin kopi menawarkan kemudahan dan citarasa kopi seperti layaknya di kafe. Dengan begitu, anda berhemat uang dan tetap bisa menikmati kopi di rumah sendiri.
5. Lain lain
Saya sulit menjelaskan alasan lain dari para pencinta kopi untuk menikmati kopi. Ini mungkin alasan tidak logis seperti gaya hidup misalnya. Berjamurnya kafe dan kedai kopi membuat citra kopi menjadi pilihan gaya hidup generasi milenial. Dimana dahulu saat saya masih anak-anak, kopi dicitrakan sebagai minuman orang-orang tua dan lanjut usia. Kini siapa pun dan apa pun status sosial mereka, kopi bisa menjadi media pertemuan sosial.

Teman kerja saya mengatakan kopi itu bisa membantu kita kalau nyari ide jeng.
Hmm apa memang begitu?
Alasan lain dari orang menikmati kopi lainnya juga mungkin tidak masuk akal. Teman saya berpendapat menikmati kopi sama seperti menikmati hidup. Kopi punya filosofi hidup yang mengajarkan kebaikan. Bahkan pengalaman saya, kopi bisa meramalkan masa depan. Anda percaya?
Kesimpulan
Demikian sekedar pendapat saya, apa alasan yang melatarbelakangi orang menikmati kopi. di sini kopi pun menjadi pertemuan sosial buat saya dan rekan kerja meski saya bukan pecinta kopi.
Bagaimana dengan anda?

Thursday, April 11, 2019

Mutiara retak yang dibersihkan Tuhan

(Pendeta Antony Chang sedang memberikan kotbah. Lokasi : Graha Anabatic. Sumber Foto : Dokumen Pribadi)

"Mutiara retak yang dibersihkan Tuhan". Kata kata ini terucap dari seorang pendeta yang membawakan kotbah dalam ibadah persekutuan doa di kantor hari ini.
Beliau bernama Pendeta Antony Chang.
Entah mengapa saya tertarik dengan kata kata beliau soal "mutiara retak yang dibersihkan Tuhan".


Dalam perjalanan hidup kita masing masing, pasti pernah menemui suatu hambatan ataupun masalah persoalan tentang kehidupan.
Kalau berkaca dari bapak pendeta, Mungkin saat teman teman search tentang nama beliau akan muncul statement "mantan orang gila".

Logika saya bertanya. "kok bisa sih mantan orang gila jadi pendeta?"
Ya bisa. Beliau pernah mengalami depresi karena masalah kehidupan yang dialami. sehingga beliau akhirnya harus menjalani rehabilitasi di rumah sakit jiwa untuk memulihkan keadaan psikisnya yang terganggu karena persolan hidup.Namun jika Tuhan inginkan hal itu terjadi, bukan mustahil akhirnya mutiara yang retak tadi bisa berharga diambil Tuhan untuk menjadi terang lewat kotbahnya sebagai pendeta,

Sebagai manusia terkadang kita begitu khawatir akan kehidupan ini. Hal hal seperti itu kekhawatiran yang begitu besar yang membuat diri kita jadi ada dalam masalah.
Sudah cantik, lalu melakukan operasi plastik agar terlihat lebih cantik.
Sudah kaya, lalu karena melihat tetangga sebelah mempunyai harta yang lebih lantas kita ingin menjadi seperti tetangga kita itu.
Sudah memiliki pasangan yang baik dan cantik, namun suami masih saja selingkuh.
Sudah punya karier dan penghasilan yang baik, masih saja melakukan tindak korupsi.
Hal hal duniawi seperti itu yang  membuat kita berada dalam masalah. karena kita sendiri yang menciptakan masalah tersebut.sehingga akhirnya membuat relasi kita dan Tuhan begitu jauh.

Akhirnya bersyukur adalah suatu jalan untuk menikmati kehidupan. Setiap orang punya berkatnya masing masing.yups, yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita mengolah berkat Tuhan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Sehingga bisa menjadi mutiara yang berkilau, entah bagaimana masa lalu kita sebelumnya. Tuhan tidak pernah melihat hal itu.
Bapak pendeta katakan "Youre not alone". Ya memang kita tidak sendiri. jika kita berserah ada Tuhan yang selalu bersama kita, hanya kadang kitanya yang tidak mau bersamaNYA.
Related dengan hal tersebut saya suka dengan ayat yang diambil dari Matius 6:34 ini  "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." 

Yup jangan khawatir, kita tidak sendiri. masih ada Tuhan yang selalu bisa kita andalkan.
Seharusnya memang kita bisa meminta Tuhan apa yang kita sanggup ubah, selebihnya kembalikan kepada kuasa Tuhan. Meminta hikmat agar kita bisa membedakan mana hal yang bisa kita upayakan untuk rubah dan mana hal yang kita memang tidak bisa rubah dan upayakan lagi.

Have a nice day 😊






Saturday, April 6, 2019

Menemukan kedamaian di siang bolong

Seorang oma duduk di hadapanku siang itu. Ia seperti memerlukan bantuan untuk menulis sesuatu di kartu pos yang akan ditulisnya. Aku memang sedang berada di kantor pos yang menjadi landmark kota. Aku mampir sebentar untuk mengambil gambar yang menurutku menarik untuk dijadikan objek foto. Selang beberapa lama aku duduk, oma tersebut duduk bersebelahan denganku dan mengaduk-aduk tasnya seperti mencari sesuatu. Aku ingin membantunya, tetapi sepertinya ia sudah menemukan pena yang dicarinya.

“Please, help me dear!” seru oma itu menarik tanganku. Ia bisa berbahasa inggris rupanya. Hebat! Ia meminta bantuanku untuk menuliskan kalimat di kartu pos sebelum dikirimnya. Aku langsung mengiyakan dan duduk di sebelahnya. Di jaman komunikasi dua jari seperti ini, masih ada seorang nenek yang berkirim pesan lewat kartu pos. Aku mengaguminya. Mungkin kalimat itu penting sehingga perlu dikirim dalam kartu pos, pikirku.

Anda tahu, apa yang harus aku tulis dalam kartu pos itu?

“You’ll never find a peace in outside world unless you find it inside yourself first” aku menulis kalimat tersebut dalam kartu pos bergambar panaroma alam. Sebelum tandatangan dibubuhkannya dalam kartu pos itu, ia memintaku menuliskan, “with love, your grandma” di bawah kalimat tersebut. Aku mengiyakan kembali.

Ketika aku akan berpamitan pulang, nenek itu mengatakan dengan aksen bahasa inggris yang bagus sekali agar aku tetap tinggal sementara ia mengeposkan kartu tersebut. Lagi-lagi aku menuruti meski aku akan menolak jika ia ingin memberikan imbalan padaku karena membantunya.

Setengah jam berlalu, oma datang dengan wajah berseri-seri . Sepertinya ia berhasil mengirimkan kartu pos itu. Ia mulai menyelediki diriku dengan beberapa pertanyaan standar seperti darimana asalku, mengapa aku ada di sini, dsb.

****
Siang itu, seorang oma mengajariku tentang kedamaian seperti yang aku rangkum berikut:

Tidak pernah mencemaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan. Biarkanlah masa lalu menjadi kenangan dan masa depan tumbuh jadi harapan! Mereka yang penuh kedamaian paham betul bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan yang tidak mungkin untuk bisa kembali lagi, sementara destinasi kita masih jauh di hadapan.Jika kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana bisa kita berdamai dengan orang lain. Luangkan waktu sejenak untuk menemukan kedamaian dalam diri dengan meditasi, berdoa, menulis buku harian, dsb. Lakukan “me time” yang membuat anda merasa nyaman dan menyenangkan diri sendiri.Berhentilah berpikir yang berlebihan tentang sesuatu hal, biarkan semua terjadi apa adanya! Pikiran “monyet” yang selalu melompat ke sana kemari adalah salah satu yang acapkali dialami saat kita mengambil waktu untuk merenung. Hey, setiap orang selalu punya masalah. Setiap rencana tidak selalu berjalan mulus. Beri motivasi diri sendiri bahwa segala sesuatu tidak pernah berjalan dengan sempurna, hambatan atau kendala adalah wajar.Kedamaian tidak terletak pada pikiran atau perasaan tetapi pemahaman. Jika kita sudah berhasil memahami apa pun yang terjadi, kita akan tahu bagaimana arti damai sesungguhnya.

Bagaimana kedamaian menurut anda sendiri?