Tuesday, June 5, 2018

Apakah Cinta itu Ada?

Perbincangan suatu sore antar suami isteri seperti dikutip di bawah ini:

Isteri: Mengapa kamu mencintaiku, mas?

Suami: Mengapa kau bertanya begitu?

Isteri: Aku hanya ingin tahu apa alasanmu mencintaiku.

Suami: Dik, aku tak punya alasan apapun untuk mencintaimu.

Isteri: Mas, aku hanya ingin tahu mengapa kita menikah dan hingga kini terus bersama.

Suami: Dik, aku menikahimu karena aku mencintaimu. Tidak ada alasan mengapa aku mencintaimu karena tidak bisa dijelaskan. Hanya bisa dialami.

Isteri: Apakah itu berarti cintamu padaku begitu besar, mas?

Suami: Cinta yang sesungguhnya itu tanpa ukuran dan tanpa syarat. Cinta adalah nama istilah, sedangkan yang kau butuhkan adalah tindakan atau perwujudan cinta itu.

Isteri: Aku mencintaimu, Mas. Aku membutuhkanmu. Apakah kau juga begitu?

Suami: Aku mencintaimu juga, Dik. Kau membutuhkan diriku, cintaku atau apanya?

Makin bingunglah isteri menjawabnya. Cinta memang tidak bisa didiskusikan. Tidak ada alasan mengapa kau jatuh cinta. Cinta juga tidak perlu dipamerkan atau ditunjukkan.

Kata suami sekali lagi, “Kau tak perlu membuktikan kepada dunia bahwa kau mencintaiku, Dik. Buktikan pada dirimu sendiri bahwa cinta itu ada.”



1 Korintus 13:4-8. Sumber foto: Dokumen pribadi 
1 Korintus 13:4-8. Sumber foto: Dokumen pribadi

Apa yang Anda Pikirkan Tentang Masa Lalu?


Sumber foto: Dokumen pribadi
Rinai hujan turun di luar, aku duduk sore itu bersama ayahku di teras belakang rumah. Dia membawa kue coklat buatan Ibu dan sepoci teh manis hangat. Ia menuangkan teh itu dalam cangkirku.
 
“Ini buatmu, nak” katanya padaku. Aku mengangguk perlahan dan bergumam, terimakasih.
 
Sederet kalimat pertanyaan meluncur deras dari mulutnya, menanyakan pekerjaanku hingga kehidupanku yang masih melajang.
 
“Mau sampai kapan kau begitu, nak?” tanyanya. Aku diam sambil menyeruput teh yang masih panas.
 
“Sebenarnya aku lelah juga, Ayah. Aku tidak kuat juga,” kataku lirih.
 
“Dengar, nak! Menjadi orang yang kuat tak perlu memiliki badan yang kuat. Untuk menjadi perempuan kuat, cukup punya hati yang lapang untuk merasa kuat,” kata Ayah sambil menepuk bahuku. Rasanya aku ingin menangis di bahunya yang kokoh.
 
Masa lalu memang tidak untuk diratapi atau dikenang, tetapi rasa sakit hati itu masih belum sembuh.
 
“Jangan pernah menyalahkan orang lain yang pernah singgah di hatimu, nak! Bersyukurlah karena mereka sempat memberikanmu kebahagiaan bahkan pengalaman dan pelajaran berharga yang menurutmu buruk sekalipun.
 
”Kalimat ayah meluncur seolah-olah ia memahami kegundahanku.
 
“Belajarlah dari masa lalu agar lebih kuat” kata ayah. Katanya lagi, “Hidup akan lebih menarik bila disertai kejutan. Hidup sesungguhnya adalah hal-hal yang tidak diharapkan terjadi.”
 
Itu alasan kita menjadi kuat. Adalah masa lalu.