Sunday, June 3, 2018

Be nice always, the world is small

“You get what you pay for” is a sentence to describe how Karma works in the world. Whether you realize it or not, the world is a circle and small.
 
What you did to others, it could be back to you again. If you do the good things, the good things will come to you back. In contrary with good things, surely you don’t want the bad come to you. But in reality, we can’t deny that we aren’t always be perfect to be good person.
 
So now this post is aimed to be reminder how small the world is. If we are able to be good people in order to get good karma, why we must follow our ego to do bad things?
 
When I discussed hard regarding this topic, a friend of mine said “Indeed Ajeng! The world is small, but the ego is big.
 
***
 
In Bahasa Indonesia
 
Kita tak pernah menyangka bahwa apa yang kita perbuat kepada orang lain maka suatu saat akan berbalik kepada kita. Dunia ini kecil dan bulat.
 
Sadar atau tidak, hal baik yang kita lakukan pada orang lain akan berbalik menjadi sumber kebaikan pada kita. Demikian juga bila hal buruk yang kita lakukan, pastinya kita tak ingin itu berbalik pada kita ‘kan.
 
Artikel ini dimaksudkan sebagai pengingat betapa kecilnya dunia. Jika kita bisa berbuat baik, mengapa harus berbuat jahat?
 
Saat saya berdiskusi hebat dengan teman di sini soal ini, dia berkata “Apa yang kau katakan itu benar, Ajeng. Dunia itu kecil. Tetapi ego kita itu besar. Mana yang dipilih?”

Taklukkan Amarah dengan “Gaya Sandwich”


Siapa pun boleh marah? Siapa pun bisa marah? Siapa pun juga berhak marah? Karena marah adalah hak setiap orang. Marah juga salah satu bentuk luapan perasaan atas ketidaksukaan, ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan terhadap sesuatu hal.
 
Kita boleh saja marah terhadap kesalahannya, tetapi bukan pada pelakunya..
 
Acapkali saat marah, komunikasi ditujukan secara emosional dan direct (langsung). Karena amarah adalah cara untuk meluapkan perasaan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu hal.
 
Beberapa waktu lalu, saya membaca “teori sandwich” untuk berkomunikasi secara elegan saat marah. Mungkin anda berpikir seperti saya, boro-boro berpikir komunikasi yang elegan saat marah. Namun setelah saya merenung dan mengingat saat dimana saya sedang marah maka saya berkesimpulan teori ini baik juga.
 
Teori ini hanya sekedar mengingatkan bahwa marah ditujukan pada kesalahan dan tepat sasaran. Masing-masing pihak merasa nyaman, baik yang dimarahi maupun yang memarahi. Semacam win-win solution atau cara untuk melampiaskan kemarahain secara nyaman dan elegan tentunya.
 
Hal ini biasa diterapkan untuk mengedukasi seseorang misalnya. Atau penerapan dilaksanakan pada situasi atasan-bawahan, guru-murid atau orangtua-anak, dan sebagainya. Anda berhak memarahi karena ada otoritas dan alasan yang kuat mendasari.
 
Ada pesan orang bijak yang mengatakan, untuk mengetahui tabiat seseorang lihatlah saat dia sedang marah. Kemarahan adalah tes yang menguji kecerdasan emosional seseorang.
 
Semacam sandwich, ada tiga lapisan yakni lapisan pertama berisi roti. Pada lapisan pertama, kemarahan dinyatakan dengan sapaan yang positif. “Saya pikir anda sudah melakukan yang terbaik saat mengerjakan tugas anda. Anda sudah datang sejak pagi agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan segera.” Demikian kalimat dari si bos kepada anak buahnya. Intinya pada lapisan pertama adalah hal yang berisi kalimat pembuka bersifat positif dan pengantar saja.
Pada lapisan kedua di sandwich berisi daging. Di sini kemarahan ditujukan pada inti atau isinya. Apa kemarahan kita? Namun tidak menyerang secara pribadi melainkan langsung (direct) pada kemarahan yang ingin diungkapkan. “Saya marah sekali ketika saya mengetahui bahwa anda telah menyalahi wewenang dengan berhubungan dengan banyak media massa. Anda adalah seorang communications specialist. Sementara membuat pernyataan di media massa adalah tugas saya sebagai manajer atau kepala staf di sini. Anda diperkerjakan untuk…” Demikian lanjutan dialog bos dan anak buah, melanjutkan contoh di atas. Di lapisan kedua, ungkapkan kemarahan kita dan alasan kemarahan. Jangan bertele-tele!
Di lapisan terakhir sandwich tentu adalah roti lagi. Tutup kemarahan kita dengan ungkapan yang santun dan menyarankan. “Saya rasa ini sudah cukup sebagai peringatan pertama. Saya sampaikan surat ini agar anda memahami struktur organisasi bekerja dengan baik. Saya berharap anda tidak mengulanginya lagi. Terus pertahankan kinerja baik anda!” Demikian dialog lanjutan penutup dialog antara bos dengan anak buahnya.
 
Bagaimana menurut anda?